Chandi Borobudur Cagar Budaya Unik dan Megah
Chandi Borobudur merupakan situs Warisan Dunia dengan nilai sejarah yang mendalam bagi masyarakat Indonesia. Borobudur dan sekitarnya menarik antusiasme yang luar biasa untuk menjelajahi sejarah dan budaya, guna mendapatkan pemahaman tentang bangunan bersejarah ini dengan lebih baik. Pemerintah telah menetapkan Borobudur dan sekitarnya sebagai destinasi wisata utama bagi wisatawan domestik dan mancanegara.
Pembukaan kembali Borobudur menghadirkan kesempatan menarik untuk mempelajari lebih lanjut tentang sejarah, arsitektur, dan seni rupa leluhur kita. Pamong Carita Borobudur yang ramah akan memandu Anda menelusuri sejarahnya, memberikan wawasan yang bermakna dan fakta-fakta menarik yang mungkin sulit dipahami sendiri.
Wisata di Borobudur menawarkan pemahaman dan lebih pengalaman yang dalam tentang sejarah dan keindahan arsitektur bangunan suci ini. Ini adalah cara untuk menghargai pembelajaran dan berpartisipasi dalam melestarikan dan melindungi situs warisan budaya dunia Indonesia.
Berada di Borobudur
Menelusuri warisan budaya Chandi Borobudur merupakan langkah yang tepat untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang wawasan dan nilai-nilai budaya bangunan ini. Pamong Carita yang ramah akan menemani Anda dengan memberikan penjelasan-penjelasan untuk mengenal Borobudur dan sekitarnya dengan lebih baik. Ini akan menjadi kesempatan yang menarik untuk menelusuri secara detail sejarah, arsitektur, filosofi, dan makna simbolis, yang mungkin sulit dipahami secara langsung.
Candi Borobudur adalah Situs Warisan Dunia, salah satu candi Buddha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Letaknya sekitar 99 kilometer barat daya Semarang, 86 kilometer barat Surakarta, dan 40 kilometer barat laut Yogyakarta.
Borobudur adalah candi atau kuil Budha berbentuk stupa yang didirikan oleh para penganut agama Budha Mahayana sekitar tahun 800 Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra. Bangunan megah ini dirancang dengan arsitektur Budha Jawa, yang memadukan budaya asli Indonesia pemujaan leluhur dan konsep Budha untuk mencapai Nirvana.
Meskipun tidak ada catatan pasti tentang kapan dan siapa yang membangun Candi Borobudur, para sejarawan sepakat pembangunan candi megah ini dimulai pada masa pemerintahan Raja Samaratungga dari Dinasti Sailendra sekitar tahun 824 M. Bangunan ini kemudian diselesaikan oleh Pramodhawardhani sekitar tahun 842 M. Pembangunan candi yang megah ini diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 100 tahun.
Bangunan yang megah ini terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar, pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relief dan aslinya terdapat 504 arca Budha. Stupa utama terbesar terletak di tengah sebagai mahkota, dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang yang di dalamnya terdapat arca Budha, duduk bersila dalam posisi teratai sempurna dengan mudra (sikap tangan) Dharmachakra mudra (memutar roda dharma).
Borobudur merupakan model alam semesta yang dibangun sebagai tempat suci untuk memuliakan Budha dan memiliki fungsi sebagai tempat ziarah untuk menuntun umat manusia beralih dari alam nafsu duniawi menuju pencerahan dan kebijaksanaan sesuai ajaran Budha. Para peziarah masuk melalui sisi timur mulai ritual di dasar candi dengan berjalan melalui serangkaian lorong-lorong dan tangga yang mendaki dengan menyaksikan tidak kurang dari 1.460 panel relief indah yang terukir pada dinding dan pagar langkan. Berjalan searah jarum jam, naik ke undakan berikutnya melalui tiga tingkatan ranah dalam kosmologi Budha. Ketiga tingkatan itu adalah Kamadhatu (ranah hawa nafsu), Rupadhatu (ranah berwujud), dan Arupadhatu (ranah tak berwujud).
Lokasi Candi Borobudur dipilih dengan cermat. Candi ini terletak di atas bukit alami di Dataran Kedu, diapit oleh Gunung Merapi dan Gunung Merbabu di sebelah timur, dan Pegunungan Menoreh di sebelah selatan. Lokasi ini memiliki makna filosofis yang mendalam, melambangkan posisi Borobudur sebagai pusat alam semesta dalam kosmologi Budha. Berada di atas bukit pada dataran yang dikelilingi oleh sepasang gunung; Sundoro-Sumbing di barat laut dan Merbabu-Merapi di timur laut. Terdapat bukit Tidar di utara, dibatasi perbukitan Menoreh di selatan, dan terletak pada pertemuan sungai Progo dan Elo di timur.
Barabudur atau lebih dikenal dengan Borobudur, adalah candi suci Budha, mendapatkan namanya diambil dari dua kata: "bara" dan "budur." Kata "bara" berasal dari "biara," yang berarti tempat ibadah atau biara Budha. Kata "budur" berasal dari bahasa Bali "beduhur," yang berarti "di atas" atau "bukit." Dengan demikian, menyebut kata "biara" dan "beduhur" berubah menjadi Borobudur, yang berarti candi atau biara di atas bukit.
Pembangunan Candi Borobudur merupakan pencapaian arsitektur dan teknik yang luar biasa pada zamannya. Para pekerja harus mengangkut dan menyusun lebih dari 2 juta blok batu andesit dari sungai dan pegunungan di sekitarnya. Blok-blok batu ini kemudian dirakit tanpa semen atau perekat, tetapi dengan sistem kunci dan pasak yang sangat presisi.
Secara historis, Candi Borobudur ditinggalkan pada abad ke-14 karena pengaruh kerajaan Hindu dan Budha di Jawa melemah dan masuknya Islam. Dunia mulai menyadari signifikansinya setelah ditemukan pada tahun 1814 oleh Sir Thomas Stamford Raffles, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jenderal Inggris di Jawa. Kemudian Borobudur mengalami serangkaian upaya penyelamatan dan restorasi, yang terbesar dilakukan antara tahun 1975 dan 1982 oleh pemerintah Indonesia dan UNESCO, dan kemudian diresmikan ke dalam Daftar Situs Warisan Dunia (World Heritage Site).
Lingkungan Sekitar
Menurut legenda Jawa, daerah yang dikenal sebagai dataran Kedu adalah tempat yang dianggap suci dalam kepercayaan masyarakat Jawa dan sangat disanjung-sanjung sebagai 'Taman pulau Jawa' karena keindahan alam yang menakjubkan dan kesuburan tanahnya.
Lingkungan sekitar Borobudur lebih banyak didominasi oleh pemandangan alam yang indah, pegunungan dan perbukitan, serta keberadaan dua sungai yang mengalir didekatnya. Pemandangan alam ini, menjelaskan Borobudur berada di dataran tinggi yang dianggap suci bagi masyarakat Jawa, karena terkenal akan keindahan alam, penduduk yang rajin dan kesuburan lahan pertaniannya.
Candi Borobudur berada dikelilingi oleh dua pasang gunung: Sindoro-Sumbing di sebelah barat laut dan Merbabu-Merapi di sebelah timur laut serta di sebelah utara terdapat bukit Tidar. Terdapat dua sungai, Progo dan Elo, mengalir di sebelah timur, disebelah selatan bangunan suci ini, dibatasi oleh jajaran Pegunungan Menoreh yang hijau dan Gunung Merapi yang menjulang tinggi di latar belakang, menawarkan pemandangan alam yang menakjubkan serta konteks sejarah dan budaya yang mendalam yang memperkaya keindahan alam sekitarnya.
Candi Borobudur, merupakan salah satu situs warisan dunia, terbesar dan megah, menjadi situs religi yang sangat penting sebagai bangunan suci agama Budha. Borobudur juga menawarkan nilai geografi yang sangat tinggi, dengan pemandangan alam yang menakjubkan serta konteks sejarah dan budaya yang mendalam. Sebagai satu destinasi wisata utama di Indonesia, Borobudur tidak hanya menawarkan pengalaman spiritual bagi para peziarah dan wisatawan, tetapi juga memberikan wawasan tentang sejarah geologi dan budaya yang kaya.
Selain Candi Borobudur, disekitarnya terdapat candi-candi Budha, dibangun berdekatan dalam kawasan ini. Pada masa penemuan dan pemugaran, ditemukan candi Budha lainnya yaitu Candi Mendut dan Pawon. Keduanya berada disebelah timur yang terbujur membentang dalam satu garis lurus. Pada awalnya diduga merupakan suatu kebetulan, tetapi menurut penjelasan sejarawan serta berdasarkan cerita penduduk setempat, dahulu terdapat jalan berlapis batu yang dipagari dinding langkan pada kedua sisinya yang menghubungkan ketiga candi ini. Tidak ditemukan bukti fisik adanya jalan raya beralas batu dan berpagar langkan, serta kemungkinan ini hanya dongeng belaka, akan tetapi para ahli menduga memang ada kesatuan perlambang dari ketiga candi ini.
Ketiga candi ini (Borobudur - Pawon - Mendut) memiliki kemiripan langgam bentuk arsitektur dan ragam hiasnya serta berasal dari periode yang sama yang memperkuat dugaan adanya keterkaitan ritual antar ketiga candi ini, tetapi bagaimanakah proses ritual keagamaan ziarah dilakukan, belum banyak diketahui secara pasti.
Menurut legenda Jawa, daerah yang dikenal sebagai dataran Kedu adalah tempat yang dianggap suci dalam kepercayaan masyarakat Jawa dan disanjung sebagai 'Taman pulau Jawa' karena keindahan alam dan kesuburan lahan tanahnya.
Menurut legenda diceritakan arsitek perancang chandi Borobudur bernama Gunadharma, sedikit yang diketahui, namanya lebih berdasarkan dongeng dan legenda Jawa, bukan berdasarkan prasasti bersejarah.
Arsitektur Borobudur
Barabudur, juga lebih dikenal sebagai Borobudur, merupakan candi Budha Mahayana. Kemegahan dan keindahan bangunan ini merupakan mahakarya seni Budha Indonesia, sebagai puncak keselarasan antara teknik arsitektur dan estetika seni Budha Jawa. Borobudur merupakan mandala, yang melambangkan alam semesta dalam kosmologi Budha.
Candi Borobudur memiliki arsitektur yang unik, mencerminkan kecanggihan teknik konstruksi pada masa itu. Desainnya terdiri dari sembilan teras bertingkat: enam persegi dan tiga melingkar. Candi ini dihiasi dengan 2.672 panel relief dan terdapat 504 patung Budha. Stupa utama terbesar terletak ditengah dan menjadi mahkota bangunan, dikelilingi oleh tiga baris melingkar berisi 72 stupa berlubang, masing-masing berisi patung Budha duduk bersila dalam posisi lotus sempurna, dengan mudra (posisi tangan) Dharmachakra (memutar roda dharma).
Candi Borobudur dibangun dan dirancang di atas bukit alami, menggunakan teknik arsitektur yang mirip dengan candi-candi lain di Jawa. Borobudur tidak memiliki ruang pemujaan, yang ada ialah lorong-lorong panjang yang dibatasi oleh dinding mengelilingi candi tingkat demi tingkat, disini umat Budha melakukan upacara berjalan kaki mengelilingi bangunan suci ini. Desainnya, sebagai tempat ibadah, tidak memiliki ruangan dan menampilkan struktur bertingkat, pengembangan dari bentuk punden berundak masa prasejarah Indonesia.
Rancang bangun Candi Borobudur menyerupai piramida berundak, strukturnya terdiri dari 10 tingkat, yang melambangkan tahapan kehidupan manusia di jalan menuju pencerahan dalam ajaran Budha. Sepuluh tingkat Borobudur mewakili filsafat mazhab Mahayana, sekaligus menggambarkan kosmologi, konsep alam semesta, dan tingkatan pikiran dalam ajaran Budha. Bagaikan suatu kitab, Borobudur menggambarkan sepuluh tahapan Bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan Kebuddhaan.
Borobudur memiliki denah lantai persegi yang secara keseluruhan membentuk mandala, diagram suci dalam Budha. Bangunan ini memiliki ukuran dasar 123 x 123 meter di setiap sisinya, dengan tinggi total 35 meter. Bangunan ini memiliki sembilan teras, enam teras bawah berbentuk persegi dan tiga teras atas berbentuk lingkaran.
Secara keseluruhan, bangunan suci ini dibagi menjadi tiga bagian utama yang melambangkan tiga alam dalam kosmologi Budha: Kamadhatu (alam keinginan) adalah dasar candi yang melambangkan dunia manusia yang masih terikat oleh keinginan dan hasrat duniawi. Rupadhatu (alam bentuk) adalah bagian tengah candi yang terdiri dari lima teras persegi. Bagian ini melambangkan dunia di mana manusia telah terbebas dari keinginan tetapi masih terikat oleh bentuk dan rupa. Sementara itu, Arupadhatu (alam tanpa bentuk) adalah bagian atas candi yang terdiri dari tiga teras lingkaran dan stupa utama berada di puncaknya. Melambangkan dunia tanpa bentuk dan keinginan, tempat para Buddha dan Bodhisattva bersemayam.
![]() |
Ukiran Makara, stupa terbesar di teras atas. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Tangga Borobudur mendaki, terletak di tengah masing-masing dari empat titik mata angin, melalui gerbang lengkung yang dihiasi ukiran Kala di atas rongga tengah, dan ukiran makara yang menonjol di kedua sisinya. Motif Kala-Makara umum ditemukan dalam arsitektur pintu candi Jawa. Pintu masuk utama terletak di sisi timur, berfungsi sebagai titik awal untuk membaca narasi relief. Tangga lurus ini terus terhubung dengan tangga di lereng bukit, menghubungkan candi dengan dataran sekitarnya.
Candi Borobudur memiliki 72 stupa berlubang yang tersusun dalam tiga teras atas melingkar: dua teras bawah lebih besar dengan lubang berbentuk belah ketupat, dan teras atas sedikit lebih kecil dengan lubang berbentuk persegi. Arca-arca Budha ditempatkan di dalam stupa berlubang, seolah-olah di dalam sangkar. Borobudur berfungsi sebagai stupa, untuk menghormati Budha sebagai simbol rasa hormat dan kekaguman kepada Budha. Tingkat tertinggi, melambangkan ketiadaan bentuk sempurna, dilambangkan oleh stupa terbesar dan tertinggi. Stupa tersebut digambarkan polos tanpa lubang. Di dalam stupa terbesar ini, pernah ditemukan patung Budha yang tidak selesai, yang juga disebut Budha yang Belum Sempurna. Secara teknis, tidak ada patung didalam stupa utama. Stupa utama Borobudur lebih melambangkan kebijaksanaan yang tertinggi, yaitu kasunyatan, keheningan dan ketiadaan sempurna, di mana jiwa manusia tidak lagi terikat oleh keinginan, hasrat, dan bentuk, dan terbebas dari siklus samsara.
Blok-blok batu candi dirakit tanpa menggunakan perekat, melainkan dengan sistem pasak dan lubang yang sangat presisi. Sekitar 55.000 meter kubik andesit diangkut dari tambang, dipotong dengan ukuran yang tepat, diangkut ke lokasi, dan dirakit tanpa menggunakan semen. Struktur Borobudur tidak menggunakan semen, melainkan sistem penguncian, dengan balok Lego yang saling terhubung tanpa perekat. Batu-batu tersebut disambung dengan tonjolan dan lubang yang sejajar secara presisi, serta bentuk "ekor merpati" yang mengunci kedua blok batu tersebut. Relief dibuat di lokasi setelah struktur dan dinding selesai dibangun.
Candi Borobudur memiliki sistem drainase yang sangat canggih pada masa itu, yang tersebar di kompleks candi, untuk daerah dengan curah hujan yang tinggi. Untuk mencegah genangan dan banjir, 100 air mancur dipasang di setiap sudut, masing-masing dirancang dalam bentuk kepala kala atau makara raksasa.
Desain ini dengan cerdik menjelaskan konsep transisi menuju ketiadaan bentuk, di mana patung-patung Budha hadir tetapi tak terlihat. Borobudur memiliki banyak patung Budha yang duduk bersila dalam posisi lotus, menampilkan mudra, atau gerakan tangan simbolis. Terdapat 504 arca Budha yang tersebar di seluruh bagian candi. Setiap arca memiliki posisi tangan (mudra) yang berbeda, melambangkan ajaran Budha yang berbeda-beda. Ada lima jenis mudra, semuanya berdasarkan lima arah mata angin. Keempat sisi pagar memiliki empat mudra: Utara, Timur, Selatan, dan Barat, dengan setiap patung Budha menghadap arah tertentu yang menampilkan mudra yang menjadi ciri khas ajaran Mahayana. Setiap mudra mewakili lima Dhyani Budha, masing-masing dengan makna simbolisnya sendiri. Patung-patung Budha di ceruk pada tingkat Rupadhatu disusun dalam barisan di sisi luar pagar langkan. Jumlahnya berkurang seiring naiknya ketinggian. Di bagian Arupadhatu (tiga halaman melingkar), patung-patung Budha ditempatkan di dalam stupa berlubang. Stupa utama terbesar terletak di tengah dan menjadi mahkota bangunan ini, dikelilingi oleh tiga baris melingkar berisi 72 stupa berlubang di mana terdapat patung Budha yang duduk bersila dalam posisi lotus sempurna dengan mudra Dharmachakra (memutar roda dharma).
Di setiap tingkat dinding candi, kecuali di teras Arupadhatu, terdapat panel relief berukir yang dibuat dengan sangat teliti dan halus. Relief Borobudur menggabungkan seni India, menggambarkan berbagai postur tubuh dengan makna atau nilai estetika tertentu, di dinding dan pagar langkan. Bangunan ini dihiasi dengan 2.672 panel relief naratif dan dekoratif, yang diukir di sepanjang dinding dan pagar langkan. Relief naratif Borobudur meliputi Karmawibhangga, Jatakamala, Lalitavistara, Awadana, Gandawyuha, dan Bhadracari. Panel relief naratif ini menampilkan aksara Jawa kuno yang menggambarkan makna kisah-kisah Buddha. Relief dekoratif Candi Borobudur merupakan mahakarya seni rupa, khususnya karena keindahannya. Relief-relief ini dibaca searah jarum jam, atau mapradaksina, yang berarti timur. Borobudur menampilkan banyak gambar; seperti figur manusia, baik bangsawan maupun rakyat biasa, serta pertapa, berbagai tumbuhan dan hewan, dan menampilkan bentuk arsitektur vernakular tradisional Nusantara. Borobudur seperti sebuah buku yang mencatat berbagai aspek kehidupan Jawa kuno.
Seluruh arsitektur Candi Borobudur tidak hanya berfungsi sebagai bangunan tetapi juga sebagai "buku tiga dimensi" yang mengajarkan filsafat Buddha kepada para peziarah. Setiap elemen arsitektur memiliki makna simbolis yang mendalam, menjadikan Candi Borobudur sebagai mahakarya arsitektur keagamaan yang tak tertandingi.
Bagian Arupadhatu (tiga pelataran melingkar), arca Budha diletakkan di dalam stupa-stupa berterawang (berlubang). Stupa utama terbesar teletak di tengah sekaligus memahkotai bangunan ini, dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang yang di dalamnya terdapat arca Buddha, duduk bersila dalam posisi teratai sempurna dengan mudra (sikap tangan) Dharmachakra mudra (memutar roda dharma).
Stupa utama dikelilingi barisan stupa berlubang Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Candi suci umat Buddha, Borobudur yang namanya diambil dua kata yaitu 'bara dan budur'. Kata 'bara' berasal dari 'biara' yang berarti tempat pemujaan bagi umat Buddha atau monestry. Kata 'budur' berasal dari bahasa Bali 'beduhur' yang berarti 'di atas' atau 'bukit'. Maka kata 'biara dan beduhur' berubah menjadi Borobudur, artinya candi atau biara di atas bukit.
Candi Borobudur ditinggalkan pada abad ke-14 seiring melemahnya pengaruh kerajaan Hindu dan Budha di Jawa serta masuknya pengaruh Islam. Dunia mulai menyadari sejak ditemukan 1814 oleh Sir Thomas Stamford Raffles, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jenderal Inggris atas Jawa.
Candi Borobudur telah mengalami serangkaian upaya penyelamatan dan pemugaran, yang terbesar digelar pada kurun waktu 1975 hingga 1982 atas upaya Pemerintah Republik Indonesia dan UNESCO. Kemudian pada tahun 1991 situs bersejarah ini telah resmi dan masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia, sebagai candi Buddha terbesar di dunia.
Warisan Bermakna
Prestasi estetika dan keterampilan teknik arsitektur yang ditunjukkan oleh Borobudur, bersama dengan ukurannya yang luar biasa, menjadi bukti keagungan masa lalu dan telah membangkitkan kebanggaan di kalangan masyarakat Indonesia. Sama seperti Angkor Wat bagi Kamboja, Borobudur telah menjadi simbol yang kuat bagi Indonesia, saksi kejayaan masa lalu.
Pengembangan dan pelestarian sangat penting, dengan peran aktif dalam mendorong wisatawan untuk mengunjungi Candi Borobudur. Sementara itu, pemerintah semakin menyadari signifikansi simbolis dan potensi ekonominya dan dengan tekun melakukan proyek restorasi untuk memulihkan monumen tersebut dengan bantuan UNESCO. Beberapa museum di Indonesia memajang model Borobudur skala kecil atau replika monumen tersebut.
Borobudur telah menjadi ikon, dikelompokkan bersama wayang dan gamelan sebagai manifestasi budaya Jawa klasik yang telah menginspirasi Indonesia. Beberapa artefak arkeologi dari monumen ini, atau replikanya, telah dipamerkan di berbagai museum di Indonesia dan luar negeri. Selain Museum Borobudur di dalam kompleks Candi Borobudur, beberapa museum menyimpan peninggalan Borobudur, termasuk Museum Nasional Indonesia, Museum Tropen Amsterdam, Museum Inggris, Museum Nasional Bangkok, Museum Louvre di Paris, Museum Nasional Malaysia di Kuala Lumpur, dan Museum Agama Dunia di Taipei, yang semuanya menampilkan replika Borobudur.
Monumen ini telah menarik perhatian global terhadap peradaban klasik Buddhisme Jawa Kuno. Penemuan kembali dan restorasi Borobudur telah dipuji oleh umat Buddha Indonesia sebagai tanda kebangkitan Buddhisme di Indonesia. Peran umat Buddha sebagai pelopor kebangkitan kembali Buddhisme dimulai pada tahun 1934. Narada Thera, seorang biksu pengkhotbah dari Sri Lanka, secara khusus mengunjungi Indonesia untuk pertama kalinya sebagai bagian dari perjalanannya untuk menyebarkan Dharma di Asia Tenggara. Pada kesempatan itu, upacara penanaman Pohon Bodhi diadakan di sisi tenggara Borobudur pada tanggal 10 Maret 1934, diberkati oleh biksu tersebut. Beberapa murid awam ditahbiskan menjadi biksu. Setiap tahun, ribuan umat Buddha dari seluruh Indonesia dan negara-negara tetangga berkumpul di Borobudur untuk memperingati Hari Trisuci Vesak.
Lambang provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Magelang menampilkan Borobudur. Candi ini telah menjadi simbol Jawa Tengah dan Indonesia secara keseluruhan. Borobudur telah menjadi nama beberapa institusi dan bisnis, seperti Universitas Borobudur, Hotel Borobudur Jakarta, dan beberapa restoran Indonesia di luar negeri. Borobudur ditampilkan pada mata uang Indonesia, prangko, dibahas dalam beberapa buku, laporan berita, publikasi, film dokumenter, dan materi promosi pariwisata Indonesia, serta telah menjadi objek wisata populer di Indonesia.
Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide.
Mendapatkan lebih banyak narasi dan materi tentang Chandi Borobudur dalam Barabudur atau Borobudur, Candi Buddha Pusaka Budaya Indonesia.
Mengunjungi dan berwisata lebih menyenangkan, menjelajahi narasi tematik lebih detil dalam Selamat Datang di Kebudayaan Borobudur - wisata dengan Pamong Carita.
Membaca lebih menyenangkan jelajahi narasi lebih detil dalam KEBUDAYAAN BOROBUDUR - BELAJAR DENGAN PEMANDU WISATA.
Membaca dalam bahasa inggris yang menyenangkan dan juga terkesan begitu menarik untuk diterjemahkan dalam bahasa yang mudah dan luwes, mendapatkan bacaan dengan detail dalam Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture.
Menjelajahi, mengagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto dengan mengetik tautan detail dalam PHOTO IMAGE BOROBUDUR.





Comments
Post a Comment