Sejarah Chandi Borobudur
Selamat datang di Chandi Borobudur yang merupakan situs Warisan Budaya Dunia yang mempunyai nilai luhur dan sejarah bagi bangsa Indonesia, akan kemegahan dan keindahan bangunan ini. Pemerintah telah menetapkan Borobudur dan kawasannya sebagai destinasi utama dan kunjungan wisata super prioritas. Pembukaan kembali Borobudur merupakan kesempatan yang menyenangkan dalam wisata tematik di Borobudur.
Wisata dan kunjungan saat ini dengan tujuan mengenal Candi Borobudur lebih dekat dalam belajar sejarah dan mengagumi kemegahan dan keindahan nilai seni arsitektural, yang merupakan bentuk apresiasi dalam belajar dan ikut serta dalam menjaga dan melindungi situs warisan budaya dunia Borobudur yang ada di Indonesia.
Berada di Borobudur
Candi Borobudur merupakan situs warisan budaya dunia atau World Heritage Site, candi Buddha ini terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Lokasi candi kurang lebih 99 kilometer di sebelah barat daya Kota Semarang, 86 kilometer di sebelah barat Kota Surakarta, dan 40 kilometer barat laut dari Kota Yogyakarta.
Menjelajahi tentang sejarah Candi Borobudur, keberadaan bangunan suci ini mempunyai tujuan sebagai tempat suci bagi pemeluk agama Buddha dan tempat peribadatan untuk tujuan memuliakan Buddha.
Tidak ditemukan dokumen dan bukti-bukti tertulis yang menjelaskan tentang siapakah yang membangun Chandi Borobudur dan apa kegunaannya. Diperkirakan monumen ini dibangun sekitar tahun 800 masehi.
Sejarah Awal
Berdasarkan perbandingan antara jenis aksara yang tertulis di kaki tertutup Karmawibhangga dengan jenis aksara yang lazim digunakan pada prasasti kerajaan abad ke–8 dan ke–9. Kurun waktu ini sesuai dengan kurun antara 760 dan 830 M, menyebutkan masa puncak kejayaan Wangsa Syailendra yang berada di Jawa Tengah dan pada saat itu masih dipengaruhi oleh Kemaharajaan Sriwijaya.
Menjelaskan pembangunan Borobudur membutuhkan waktu kurang lebih sekitar 75-100 tahun, dan pada saat itu diselesaikan pada masa pemerintahan Raja Samaratungga pada tahun 825 M.
Terdapat kesimpangsiuran tentang fakta mengenai raja-raja yang berkuasa di Jawa beragama Hindu atau Buddha. Wangsa Sailendra diketahui sebagai penganut agama Buddha beraliran Mahayana, melalui penemuan prasasti Sojomerto yang menunjukkan bahwa kemungkinan pada awalnya beragama Hindu - Siwa. Pada kurun waktu itu telah dibangun berbagai candi-candi Hindu dan Buddha di Dataran Kedu.
Berdasarkan Prasasti Canggal, pada tahun 732 M, menyebutkan bahwa raja yang beragama Hindu - Siwa Sanjaya memerintahkan dalam pembangunan bangunan suci Shiwalingga yang dibangun di perbukitan Gunung Wukir, letaknya hanya sekitar 10 km sebelah timur dari Borobudur. Candi Buddha Borobudur dibangun pada kurun waktu yang hampir bersamaan dengan candi-candi yang berada di Dataran Prambanan, hal ini meskipun demikian Borobudur diperkirakan selesai sekitar tahun 825 M, yaitu dua puluh lima tahun lebih awal sebelum dimulainya pembangunan candi Siwa Prambanan pada tahun 850 M.
Pembangunan candi Buddha, yakni termasuk Candi Borobudur, pada saat itu dimungkinkan karena pewaris Sanjaya, yaitu Rakai Panangkaran telah memberikan izin kepada umat Buddha dalam membangun bangunan suci untuk menunjukkan sebagai wujud penghormatannya, yaitu Panangkaran menganugerahkan desa Kalasan kepada Sangha (komunitas Buddha), dalam pemeliharaan dan pembiayaan Candi Kalasan yang dibangun untuk memuliakan Bodhisattwadewi Tara, yang disebutkan dalam Prasasti Kalasan tahun 778 Masehi.
Petunjuk ini dipahami oleh para arkeolog, bahwa masyarakat Jawa Kuno, pada dasarnya agama tidak pernah menjadi masalah yang dapat menjadikan suatu konflik, dengan dicontohkan sebagai raja penganut agama Hindu bisa saja menyokong dan mendanai dalam pembangunan candi Buddha, demikian pula sebaliknya. Akan tetapi diduga terdapat persaingan antara dua wangsa kerajaan pada masa itu yakni Wangsa Syailendra yang menganut agama Buddha dan Wangsa Sanjaya yang memuja Hindu - Siwa, kemudian pada akhirnya Wangsa Sanjaya memenangi pertempuran pada tahun 856 di perbukitan Ratu Boko.
Ketidakjelasan juga timbul mengenai Candi Lara Jonggrang di Prambanan, yang dipercaya dibangun oleh sang pemenang yaitu Rakai Pikatan sebagai jawaban dari Wangsa Sanjaya untuk menyaingi kemegahan Borobudur yang dimiliki oleh wangsa Syailendra. Akan tetapi banyak pihak percaya bahwa terdapat suasana toleransi dan juga kebersamaan yang penuh dengan kedamaian diantara kedua wangsa ini yaitu pihak Sailendra juga terlibat dalam pembangunan Candi Siwa di Prambanan.
Jenis tulisan di relif Borobudur. Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
perbandingan antara jenis aksara atau tulisan yang tertulis di kaki tertutup Karmawibhangga dengan jenis aksara pada prasasti kerajaan abad ke–8 dan ke–9.
Borobudur diterlantarkan
Borobudur tersembunyi dan terlantar selama berabad-abad serta terkubur di bawah lapisan tanah dan debu vulkanik yang kemudian ditumbuhi pohon dan semak belukar sehingga kala itu benar-benar menyerupai bukit. Alasan yang sesungguhnya penyebab ditinggalkan hingga kini masih belum diketahui secara pasti sejak kapan bangunan suci ini tidak lagi menjadi pusat ziarah bagi umat Buddha.
Pada kurun waktu tahun 928 dan 1006, Raja Mpu Sindok memindahkan ibu kota kerajaan Medang ke kawasan Jawa Timur setelah terjadi serangkaian letusan gunung berapi. Hal ini tidak dapat dipastikan apakah faktor inilah yang menyebabkan Candi Borobudur ditinggalkan, tetapi beberapa sumber menduga bahwa ini sangat mungkin Borobudur mulai ditinggalkan pada periode ini.
Bangunan suci ini disebutkan secara samar-samar sekitar tahun 1365, oleh Mpu Prapanca dalam naskahnya yang berjudul Nagarakretagama yang ditulis pada masa kerajaan Majapahit. Dalam tulisannya menyebutkan keberadaan 'Wihara di Budur'. Selain itu, menurut Soekmono (1976) juga mengajukan pendapat populer bahwa candi ini mulai benar-benar ditinggalkan sejak penduduk sekitar beralih keyakinan kepada Islam pada abad ke-15.
Pada dasarnya Candi Borobudur tidak sepenuhnya dilupakan, melalui cerita dan dongeng rakyat Borobudur beralih dari sebagai suatu bukti kejayaan masa lampau menjadi kisah yang lebih bersifat tahayul yang dikaitkan dengan hal-hal seperti kesialan, kemalangan dan penderitaan. Dua Babad Jawa yang pernah ditulis abad ke-18 menyebutkan nasib buruk yang berhubungan dengan monumen ini.
Menurut Babad Tanah Jawi atau Sejarah Jawa, bangunan ini merupakan suatu faktor fatal bagi Mas Dana, yaitu pembangkang yang memberontak kepada Pakubuwono I, raja Kesultanan Mataram pada 1709. Disebutkan bahwa bukit 'Redi Borobudur' dikepung dan para pemberontak dapat dikalahkan dan dihukum mati oleh raja.
Dalam Babad Mataram atau Sejarah Kerajaan Mataram, dikaitkan dengan kesialan Pangeran Monconagoro, putra mahkota Kesultanan Yogyakarta yang mengunjungi bangunan ini pada 1757. Meskipun tabu yang melarang orang untuk mengunjungi candi ini, Sang Pangeran datang dan mengunjungi satria yang terpenjara di dalam suatu kurungan yaitu arca Buddha yang terdapat di dalam stupa berterawang. Hal yang tidak terduga, sekembalinya ke keraton, sang Pangeran jatuh sakit dan meninggal dunia sehari kemudian.
Dampak meletusnya Gunung Merapi diduga sebagai awal penyebab utama diterlantarkannya Borobudur. Dalam kepercayaan masyarakat Jawa pada masa Mataram Islam, reruntuhan bangunan percandian dianggap sebagai tempat bersemayamnya roh halus dan dianggap tempat yang wingit (angker) sehingga dikaitkan dengan kesialan atau kemalangan yang mungkin dapat menimpa siapa saja yang datang dan mengunjungi bangunan ini.
Meskipun pandangan secara ilmiah diduga, mungkin setelah situs ini tidak terurus dan ditutupi semak belukar, bangunan ini pernah menjadi sarang wabah penyakit seperti demam berdarah atau malaria.
Penemuan Kembali
Setelah Perang Inggris–Belanda dalam memperebutkan pulau Jawa, saat itu Jawa di bawah pemerintahan Britania (Inggris) pada kurun 1811 hingga 1816. Thomas Stamford Raffles ditunjuk sebagai Gubernur Jenderal, dan ia memiliki minat istimewa terhadap sejarah budaya Jawa.
Dalam aktivitasnya mengumpulkan artefak-artefak dan benda-benda antik kesenian Jawa kuno serta pembuatan catatan mengenai sejarah dan tradisi kebudayaan Jawa yang berhasil dikumpulkannya dari perjumpaannya dengan masyarakat setempat dalam perjalanannya keliling Jawa. Pada salah satu perjalanan dan kunjungan inspeksinya di Semarang tahun 1814, ia dikabari mengenai adanya suatu bangunan besar jauh di dalam hutan dan tertimbun bukit berada di dekat desa Bumisegoro.
Karena berhalangan dan tugasnya, ia tidak dapat pergi sendiri untuk mencari bangunan itu dan mengutus H.C. Cornelius, seorang insinyur Belanda, untuk menyelidiki lebih jauh tentang keberadaan bangunan besar ini. Dalam dua bulan, Cornelius beserta 200 orang bawahannya menebang pepohonan dan membersihkan semak belukar yang tumbuh di bukit Borobudur serta membersihkan lapisan tanah yang mengubur candi ini. Karena ancaman longsor, aktivitasnya tidak dapat menggali dan membersihkan semua lorong. Kemudian melaporkan hasil penemuannya kepada Raffles termasuk menyerahkan berbagai bentuk gambar dan sketsa Borobudur, Raffles dianggap telah berjasa atas penemuan kembali monumen ini yang pernah hilang.
Borobudur sebelum pemugaran. Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Menyebutkan pada saat itu Hartmann, seorang pejabat pemerintah Hindia Belanda di wilayah Keresidenan Kedu meneruskan kinerja Cornelius pada 1835, yang akhirnya seluruh bagian bangunan telah tergali dan terlihat. Ketertarikan dan minatnya terhadap Candi Borobudur lebih bersifat pribadi daripada tugas kerjanya, sehingga Hartmann tidak menulis laporan atas kegiatannya; secara khusus, beredar kabar bahwa ia telah menemukan arca Buddha terbesar di stupa utama.
Pada 1842, Hartmann menyelidiki kembali stupa utama meskipun apa yang telah ia temukan tetap menjadi misteri karena bagian dalam stupa kosong. Pemerintah berencana untuk menerbitkan artikel berdasarkan pada penelitian Brumund yang dilengkapi dengan sketsa-sketsa karya Wilsen, akan tetapi Brumund menolak untuk bekerja sama.
Pemerintah Hindia Belanda kemudian menugaskan ilmuwan lain, C. Leemans, untuk penelitian lebih lanjut yang mengkompilasi monografi berdasarkan sumber-sumber yang diperoleh dari Brumund dan Wilsen. Pada 1873, monograf pertama dan penelitian lebih detil atas Borobudur diterbitkan, dilanjutkan edisi terjemahannya dalam bahasa Perancis setahun kemudian.
Foto pertama monumen ini diambil pada tahun 1873 oleh ahli engrafi Belanda, Isidore van Kinsbergen.
Penghargaan atas situs ini tumbuh perlahan. Untuk waktu yang cukup lama Borobudur telah menjadi sumber cenderamata dan pendapatan bagi sebagian besar penjarah dan kolektor pemburu artefak dan benda-benda kuno. Pada umumnya kepala arca-arca Buddha adalah bagian yang paling banyak dicuri, karena mencuri seluruh arca Buddha terlalu berat dan cukup besar, sehingga kepala arca-arca tersebut sengaja diambil dan menjadi incaran para kolektor.
Karena itulah kini di Borobudur banyak ditemukan arca Buddha tanpa kepala. Kepala Buddha Borobudur telah lama menjadi incaran kolektor benda antik dan museum-museum di seluruh dunia.
Pada 1882, kepala inspektur artefak budaya menyarankan agar Borobudur dibongkar seluruhnya dan reliefnya dipindahkan ke museum akibat kondisi yang tidak stabil, ketidakpastian dan pencurian yang marak di monumen. Akibatnya, pemerintah menunjuk Groenveldt, yaitu seorang arkeolog, untuk mengadakan penyelidikan secara menyeluruh atas situs dan memperhitungkan kondisi aktual kompleks ini; laporannya menyatakan bahwa kekhawatiran ini berlebihan dan menyarankan agar bangunan ini dibiarkan utuh dan tidak dibongkar untuk dipindahkan.
Bagian candi dicuri sebagai benda cinderamata, arca dan ukirannya diburu kolektor benda antik. Tindakan penjarahan situs bersejarah ini bahkan salah satunya direstui Pemerintah Kolonial.
Pada tahun 1896, saat Raja Thailand, Chulalongkorn ketika mengunjungi Jawa di Hindia Belanda (kini Indonesia) menyatakan minatnya untuk memiliki beberapa bagian dari Borobudur. Pemerintah Hindia Belanda saat itu mengizinkan dan menghadiahkan delapan gerobak penuh arca-arca dan bagian bangunan Borobudur. Artefak yang diboyong ke Thailand antara lain; lima arca Buddha bersama dengan 30 batu dengan relief, dua patung singa, beberapa batu berbentuk kala, tangga dan gerbang, serta arca penjaga dwarapala yang pernah berdiri di Bukit Dagi, beberapa ratus meter di barat laut Borobudur. Beberapa artefak-artefak ini, yaitu arca singa dan arca penjaga dwarapala, kini berada dipamerkan di Museum Nasional Bangkok.
Borobudur berada diatas bukit. Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Nama Borobudur
Asal mula nama Borobudur tidak jelas, meskipun memang nama asli dari kebanyakan candi di Indonesia tidak diketahui. Nama Borobudur pertama kali ditulis dalam buku Sejarah Pulau Jawa karya Sir Thomas Raffles.
Raffles menulis mengenai monumen bernama borobudur, akan tetapi tidak ada dokumen yang lebih tua yang menyebutkan nama yang sama persis. Satu-satunya naskah Jawa kuno yang member petunjuk mengenai adanya bangunan suci Buddha yang mungkin merujuk kepada Borobudur adalah Nagarakretagama, yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada 1365.
Nama Bore-Budur, yang kemudian ditulis BoroBudur, kemungkinan ditulis Raffles dalam tata bahasa Inggris untuk menyebut desa terdekat dengan candi itu yaitu desa Bore ( Boro ); kebanyakan candi memang seringkali dinamai berdasarkan desa tempat candi itu berdiri. Raffles juga menduga bahwa istilah 'Budur' mungkin berkaitan dengan istilah Buda dalam bahasa Jawa yang berarti 'purba' maka bermakna, 'Boro purba'.
Akan tetapi arkeolog lain beranggapan bahwa nama Budur berasal dari istilah bhudhara yang berarti gunung.Banyak teori yang berusaha menjelaskan nama candi ini. Salah satunya menyatakan bahwa nama ini kemungkinan berasal dari kata Sambharabhudhara, yaitu artinya "gunung" (bhudara) di mana di lereng -lerengnya terletak teras-teras. Selain itu terdapat beberapa etimologi rakyat lainnya. Misalkan kata borobudur berasal dari ucapan "para Buddha" yang karena pergeseran bunyi menjadi borobudur.
Penjelasan lain ialah bahwa nama ini berasal dari dua kata yaitu "bara" dan "beduhur". Kata bara konon berasal dari kata vihara, sementara ada pula penjelasan lain di mana bara berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya kompleks candi atau biara. Sedangkan kata beduhur artinya ialah "tinggi", atau mengingatkan dalam bahasa Bali yang berarti "di atas". Jadi maksudnya ialah suatu biara atau asrama yang berada di tanah tinggi.
Sejarawan J.G. de Casparis dalam disertasinya untuk mendapatkan gelar doktor pada 1950 berpendapat bahwa Borobudur adalah merupakan suatu tempat pemujaan. Berdasarkan prasasti Karangtengah dan Tri Tepusan, menurut Casparis memperkirakan bahwa pendiri Borobudur adalah raja Mataram dari wangsa Syailendra bernama Samaratungga pada sekitar tahun 824 M.
Bangunan itu diselesaikan pada masa putrinya, yaitu Ratu Pramudawardhani. Pembangunan Borobudur diperkirakan memakan waktu setengah abad. Dalam prasasti Karangtengah pula disebutkan mengenai penganugerahan tanah sima (tanah bebas pajak) oleh Çri Kahulunan (Pramudawardhani) untuk memelihara Kamulan, bangunan suci yang disebut Bhūmisambhāra. Istilah nama Kamulan sendiri berasal dari kata mula yang berarti tempat asal muasal, bangunan suci untuk memuliakan para leluhur, kemungkinan adalah leluhur dari wangsa Sailendra.
Casparis memperkirakan bahwa Bhumi Sambhara Bhudhāra dalam bahasa Sanskerta mempunyai arti "Bukit himpunan kebajikan sepuluh tingkatan Boddhisattwa", dan ini adalah nama asli Borobudur.
![]() |
Stupa teras-teras Borobudur. Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Stupa dengan jajaran perbukitan Menoreh. Selama berabad abad bangunan suci ini sempat terlupakan.
Borobudur berada 15 km di sebelah selatan bukit Tidar dan di tengah kehijauan alam dataran Kedu. Diduga dulu kawasan di sekeliling Borobudur adalah danau purba.
Pemandangan Borobudur dari bukit Dagi. Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Nama Borobudur berasal dari dua kata yaitu "bara" dan "beduhur". Kata "bara" berasal dari kata "vihara", dalam bahasa Sanskerta berarti "candi". Kata "beduhur" artinya ialah "tinggi", dalam bahasa Bali yang berarti "di atas".
Menurut legenda diceritakan arsitek perancang chandi Borobudur bernama Gunadharma, sedikit yang diketahui, namanya lebih berdasarkan dongeng dan legenda Jawa, bukan berdasarkan prasasti bersejarah.
Sumber: Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Guiding Technique Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.
![]() |
Pemandangan Borobudur dilihat dari pelataran sudut barat laut. Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Mendapatkan lebih banyak narasi dan materi tentang Chandi Borobudur dalam Barabudur atau Borobudur, Candi Buddha Pusaka Budaya Indonesia.
Mengunjungi dan berwisata lebih menyenangkan, menjelajahi narasi tematik lebih detil dalam Selamat Datang di Kebudayaan Borobudur - wisata dengan Pamong Carita.
Membaca lebih menyenangkan jelajahi narasi lebih detil dalam KEBUDAYAAN BOROBUDUR - BELAJAR DENGAN PEMANDU WISATA.
Membaca dalam bahasa inggris yang menyenangkan dan juga terkesan begitu menarik untuk diterjemahkan dalam bahasa yang mudah dan luwes, mendapatkan bacaan dengan detail dalam Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture.
Menjelajahi, mengagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto dengan mengetik tautan detail dalam PHOTO IMAGE BOROBUDUR.




Comments
Post a Comment